Tiga Hikmah Dalam Momentum Maulid Nabi SAW
Oleh, Ust Mansur Amriatul

By Admin 25 Nov 2018, 21:41:49 WIB Religi
Tiga Hikmah Dalam Momentum Maulid Nabi SAW

Keterangan Gambar : Ust Mansur Amriatul (dalam menyampaikan uraian Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Baiturrahman Ruteng - Manggarai)


Lima belas abad yang lalu lahirlah seorang utusan Allah yang paling sempurna karena utusan Allah ini merupakan pamungkas Sang pembawa risalah dari yang sebelum-sebelumnya. Utusan yang sempurna, Nabi yang universal, the perfect man, Insan Kamil itu bernama Muhammad. Lahir abad ke-6 masehi atau pada bulan Rabiul Awal di tengah-tengah masyarakat yang bergelimang dalam era jahiliyah.

Nabi Muhammad SAW diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia dari kejahiliyahan menuju keberadaban. Tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Sungguh, kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman (QS. Al-Anbiya’ 107).

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya 107)

Dalam memanfaatkan momentum maulid Nabi Muhammad SAW ini harapannya tidak sebatas seremoni atau ritual tahunan semata, tetapi juga dimaknai sebagai spirit bersama umat Islam untuk kembali mengkaji dan meneladani Rasulullah SAW dalam mengemban visi Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Sehingga dalam aktualisasniya memperingati maulid Nabi SAW merupakan pengejawantahan ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada sang utusan Allah sang pembawa risalah kebajikan. Saat yang sama dimaknai juga sebagai ekspresi rasa syukur dan mengukuhkan komitmen loyalitas pada baginda Muhammad SAW.

Seiyanya, ini terwujud dengan tiga hal :
#Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. 
Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW. adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, kecintaan terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Rasulullah bersabda, :

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya” (HR. Bukhari).

#Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam segala aspek

Allah SWT berfirman QS. Al-Ahzab 21 :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Ahzab: 21)

Dalam menanamkan keteladanan Rasul dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Tanamkan pula keteladanan terhadap Rasul ini pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya. Sehingga mereka tidak menjadi pemuja dan pengidola figur publik berakhlak rusak yang mereka tonton melalui acara televisi dan media informasi lain .

#Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah, dan juga para Nabi
Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini. Beliau bersabda:

“Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).

Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama’ dari masa ke masa. Mereka, para ulama’ adalah pewaris para Nabi. Rasulullah SAW. bersabda :

“Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Hibban).

Sebagai bagian dari umat Islam, selayaknyalah kita menyerahkan kepatuhan dan loyalitas pada para ulama sebagai pewaris Rasul dan pelanjut misi beliau. Kepatuhan dan loyalitas tiada lain merupakan wujud ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, kita layak prihatin, karena kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini, ulama’ kurang mendapat tempat di mata umat. Bukan saja diacuhkan, ulama’ bahkan mulai mendapat hujatan dan hinaan di sana-sini. Nau’dzu billah min dzalik. Fenomena ini menjadi salah satu pertanda zaman akhir sebagaimana diprediksikan Rasulullah SAW.

Dalam kitab Nashaihul Ibad, tertera sebuah hadits yang memberikan gambaran tentang hal ini. Rasulullah bersabda yang artinya:
“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka lari dari ulama dan fuqaha’, maka Allah pun menimpakan tiga bentuk cobaan. Pertama, Allah akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang zhalim. Ketiga, mereka akan keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman”.

Wallahulam Bissawab

By, Mansur Amriatul (disampaikan pada saat perayaan Maulid Nabi SAW di Masjid Agung Baiturrahman Ruteng Kab Manggarai)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment